Kamis, 02 Oktober 2014

legenda asal usul kerajaan minangkabau

MINANGKABAU

ramai orang bertanya - tanya akan asal nama minangkabau ini, ramai mengatakan minangkabau berasal dari kata MENANG dan  KERBAU yang di ambil dari sebuah cerita rakyat tentang pertandingan ADU KERBAU yang terjadi pada masa RAJA ADITYA WARMAN memerintah, kemudian berubah menjadi MINANGKABAU.
ada juga yang mengatakan memang berasal dari kata MINANG dan KABAU dimana kata MINANG memiliki arti sebuah senjata tajam yang mirip TAJI pisau kecil yang di pasangkan pada jari ayam bila kita mengadu ayam pada masa dahulu. kemudian KABAU artinya kerbau,  hewan yang banyak ada di minangkabau untuk membajak sawah dan menarik pedati.

menurut ahli sejarah mengatakan begini :

Asal Usul Kata Minangkabau

Pada tahun 1275 Kertanagara raja Singhasari, mengirimkan utusan untuk menjalin persahabatan dengan Kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Pengiriman utusan ini terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu. Baik Nagarakretagama ataupun Pararaton sama sekali tidak menyebutkan siapa nama utusan ekspedisi ini. TETAPI banyak yang memepercayai yang memimpin exspedisi adalah KEBO ANABRANG atau MAHESA ANABRANG.

sehingga tiba lah KEBO ANABRANG di PULAU PERCA yang saat itu di kuasai kerajaan besar di bawah dinasti MAULI, pusat kerajaan ini berada di DHARMASRAYA di sebuah kabupaten di sumatera barat sekarang.

RAJA MAULI WARMADEWA sangat mencintai perdamaian sehingga ia tidak mau berperang, untuk itu kemudian ia serahkan dua orang putrinya DARA PETAK dan DARA JINGGA untuk di persembahkan kepada raja KRETANEGARA raja SINGHASARI waktu itu.

kembalilah kebo anabrang ke tanah jawa.

sayangnya di tanah jawa telah terjadi pemberontakan yang di lakukan oleh JAYAKATWANG yang berhasil membunuh RAJA KRETANEGARA. kemudian menantu dari raja kretanegara yang bernama RADEN WIJAYA menyelamatkan diri dan bersiasat kembali untuk menaklukan JAYA KATWANG. dan siasatnya berhasil, maka ia berhasil mengalahkan dan menewaskan jaya katwang. kemudian ia mendirikan sebuah kerajaan baru bernama MAJAPAHIT.

Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin Mahisa Anabrang memperoleh keberhasilan. Nagarakretagama mencatat Melayu masuk ke dalam daftar jajahan Singhasari selain Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura. Utusan Pamalayu kembali ke Jawa tahun 1293 dengan membawa dua orang putri bernama Dara Jingga dan Dara Petak, semula untuk dijodohkan dengan Kertanagara. Namun Kertanagara telah tewas setahun sebelumnya akibat pemberontakan Jayakatwang. Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya telah berhasil mengalahkan Jayakatwang dan mendirikan Kerajaan Majapahit, sehingga ia yang menerima perjodohan tersebut.

DAN BILAMANA Raden wijaya sudah wafat dan di gantikan oleh putranya, yaitu anak dari DARA PETAK yang bernama JAYA NEGARA, dan jaya negara hanya memerintah setahun lamanya sebelum ia di bunuh oleh tabib istana bernama RATANCA, kemudian kerajaan majapahit di pimpin oleh RAJAPATNI istri RADEN WIJAYA dari anak KRETANEGARA.

hal ini membuat tidak senang ADITYA WARMAN anak dari DARA JINGGA istri RADEN WIJAYA adik dari DARA PETAK, sehingga ia kembali ke PULAU PERCA dan menghadap kakeknya MAULIWARMADEWA dan ia menyatakan ingin menjadi raja di PULAU PERCA. kakeknya menyarankan padanya untuk pergi ke KERAJAAN GUNUNG MERAPI untuk bertemu dengan RAJA SRI MAHARAJA DIRAJA dan meminta menajdi menantunya.

dari sanalah kemudian ADITYA WARMAN berhasil menundukan banyak kerajaan kecil di daaerah tersebut. kemudian ia memerintah sebuah kerajaan baru yang bernama PAGARUYUNG.

GAJAH MADA mahapatih majapahit mengetahui hal tersebut dan marah, ia pun mengirimkan bala tentaranya untuk menaklukan kembali PAGARUYUNG di sebuah padang terjadilah pertempuran sengit. banyak di kedua belah pihak tewas,. dan mayatnya tak sempat di kubur sehingga berbau busuk. padang itu hingga kini di kenal dengan sebutan PADANG SIBUSUK.
kemudian raja ADITYAWARMAN dan patihnya menukar peperangan dengan adu kerbau.

Orang-orang Majapahit tidak ketinggalan mencoba kecerdasan dan kecerdikan orang-orang dari Gunung Merapi ini. Pada suatu hari mereka membawa seekor kerbau besar dan panjang tanduknya, kecil sedikit dari gajah.

Mereka ingin mengadakan pertandingan adu kerbau. Ajakan mereka itu diterima baik oleh kedua datuk yang tersohor kecerdikannya dimana-mana itu, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang. Taruhannya adalah seperti dulu-dulu juga, yakni kapal pendatang dengan segala isinya, dan taruhan datuk yang berdua itu ialah kerajaan mereka sendiri.

Waktu tiba saatnya akan mengadu kerbau, setelah kerbau Majapahit dilepaskan di tengah gelanggang, orang banyak riuh bercampur cemas melihat bagaimana besarnya kerbau yang tidak ada tandingannya di Pulau Perca waktu itu.

Dalam keadaan yang menegangkan itu, pihak orang-orang negeri itupun mengeluarkan kerbaunya pula. Dan alangkah herannya dan kecutnya hati orang banyak itu melihat mereka mengeluarkan seekor anak kerbau. Anak kerbau itu sedang erat menyusu, dan orang tidak tahu, bahwa anak kerbau itu telah bebearapa hari tidak doberi kesempatan mendekati induknya.

Ketika melihat kerbau besar di tengah gelanggang anak kerbau itu berlari-lari mendapatkannya yang dikria induknya dengan kehausan yang sangat hendak menyusu. Dimoncongnya terikat sebuah taji atau minang yang sangat tajam. Ia menyeruduk ke bawah perut kerbau besar itu, dan menyinduk-nyinduk hendak menyusu. Maka tembuslah perut kerbau Majapahit, lalu lari kesakitan dan mati kehabisan darah.

Orang-orang Majapahit memprotes mengatakan orang-orang negeri itu curang. Kegaduhan pun terjadi dan hampir saja terjadi pertumpahan darah. Tetapi dengan wibawanya Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang membawa orang-orang itu ke balai persidangan. Disanalah Dt. Parpatih Nan Sabatang menangkis tuduhan-tuduhan orang-orang Majapahit. Akhirnya orang-orang Majapahit pemgakui kealpaan mereka tidak mengemukakan persyaratan-persyaratan antara kedua belah pihak sebelum mengadakan pertandingan.

Sejak itu tempat mengadu kerbau itu sampai sekarang bernama Negeri Minangkabau. Dan kemudian hari setelah peristiwa kemenangan mengadu kerbau dengan Majapahit itu termasyhur kemana-mana, wilayah kekuasaan orang-orang yang bernenek moyang ke Gunung Merapi dikenal dengan Alam Minangkabau. Diceritakan pula kemudian rumah-rumah gadang diberi bergonjong seperti tanduk kerbau sebagai lambang kemenangan yang di ambil dari bentuk tanduk yang di buat dan di pasangkan pada kepala anak kerbau tersebut.

(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka - Tambo Minangkabau)