Sabtu, 01 Maret 2025

SEJARAH SUMATERA DAN SUNDA LAND

 SEJARAH SUMATERA DAN SUNDA LAND 


pernahkah kita membayangkan keadaan pulau sumatera, kalimantan, jawa, semenanjung malaysia bersatu, itulah yang sering kita sebut sebagai SUNDA LAND, sebagian orang menyebut sebagai PAPARAN SUNDA atau TATAR PASUNDAN. 

tak dapat kita bayangkan berapa luasnya tanah sunda land di masa itu, dan tentunya pergerakan mahluk hidup di atasnya sungguh luar biasa.

dan tentunya di masa itu kita berpikir adakah kehidupan dan peradaban pada masa itu? nah, kita semak beberapa informasi di bawah ini :

Bangsa Lemuria dan Sundaland adalah dua teori yang berkaitan dengan keberadaan peradaban kuno yang pernah ada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Samudra Hindia dan Asia Tenggara. Teori ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli, namun terdapat beberapa bukti geologis yang mendukungnya.

Perspektif geologi tentang Lemuria dan Sundaland didasarkan pada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa wilayah yang sekarang dikenal sebagai Samudra Hindia dan Asia Tenggara pernah menjadi satu daratan yang luas pada zaman es terakhir. Hal ini menyebabkan wilayah ini menjadi lebih terbuka dan memungkinkan manusia untuk bermigrasi dan menetap di wilayah ini.

sumber :
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Peradaban Indonesia: Lemuria, Sundaland Kreator: ADI PUTRA (Adhyp Glank)

gambar bentuk dari sebuah daratan yang sangat luas yaitu sundaland

dari sedikit  penjelasan di atas dapat kita kembangkan menjadi beberapa penjelasan lainnya seperti :

Berdasarkan perspektif geologi, teori Lemuria dan Sundaland memiliki implikasi penting bagi bangsa Indonesia. Teori ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki sejarah yang lebih panjang dari yang diperkirakan sebelumnya. Selain itu, teori ini juga menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan bangsa-bangsa lain di wilayah Asia Tenggara.

lalu kenapa bisa terbentuknya daratan sunda land?

Bukti geologis yang mendukung teori Lemuria dan Sundaland adalah pada zaman es terakhir, permukaan air laut lebih rendah 100 hingga 150 meter dari sekarang. Hal ini menyebabkan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Samudra Hindia dan Asia Tenggara menjadi satu daratan yang luas




Sundalandia adalah wilayah bio-geografi Asia Tenggara yang meliputi Paparan Sunda, bagian landas kontinen Asia yang terekspos selama Zaman Es terakhir. Periode Glasial Terakhir, dikenal sebagai Zaman Es Terakhir, adalah periode glasial terakhir dalam rangkaian panjang Zaman Es yang terjadi selama tahun-tahun terakhir Pleistosen, dari sekitar 110.000 sampai 12.000 tahun yang lalu. Sundalandia meliputi Semenanjung Malaya di daratan Asia, serta pulau-pulau besar Kalimantan, Jawa dan Sumatera, dan pulau-pulau sekitarnya. Batas timur Sundalandia adalah Garis Wallace, diidentifikasi oleh Alfred Russel Wallace sebagai batas timur kisaran daratan fauna mamalia Asia, dan juga sebagai batas zona ekosistem Indomalaya dan Australasia. Pulau-pulau di sebelah timur garis Wallace dikenal sebagai Wallacea, dan dianggap sebagai bagian dari Australasia. Perlu dicatat bahwa saat ini secara umum telah diterima bahwa Asia Tenggara adalah merupakan titik masuk migrasi manusia modern dari Afrika.
Nama "Sundalandia" pertama kali diusulkan oleh van Bemmelen pada tahun 1949, diikuti oleh Katili (1975), Hamilton (1979) dan Hutchison (1989), untuk menggambarkan sebuah inti benua Asia Tenggara yang membentuk bagian selatan lempeng Eurasia. Sundalandia berbatasan di sebelah barat, selatan dan timur dengan wilayah tektonik aktif yang ditandai dengan kegempaan dan aktivitas gunung berapi yang intensif. Zona tektonik aktif ini secara efektif merupakan sabuk pegunungan dalam proses pembentukannya, dan mengandung banyak fitur yang biasanya dianggap berhubungan dengan akresi pegunungan: terdapat subduksi aktif, transfer material pada batas lempeng, contoh tumbukan dengan fitur apung di lempeng samudera, busur dan benua dan banyaknya magmatisme.
Sabuk pegunungan yang ada sekarang terletak di persimpangan tiga lempeng utama: Lempeng Eurasia, Lempeng India, Lempeng Australia dan Lempeng Laut Pasifik-Filipina. Lempeng=lempeng ini mengelilingi Sundalandia dan membentang dari Sumatera ke Filipina melalui Indonesia timur. Karakteristik dan lebarnya berubah dari barat ke timur dan terdiri dari segmen-segmen yang berbeda atau jahitan-jahitan dengan karakter yang berbeda.

Migrasi Manusia

Menurut teori sebelumnya, nenek moyang masyarakat Austronesia modern di kepulauan Melayu dan wilayah yang berdekatan diyakini telah bermigrasi ke selatan, dari daratan Asia Timur ke Taiwan, dan kemudian ke seluruh kepulauan Asia Tenggara. Namun, temuan terakhir menunjukkan bahwa Sundalandia yang sekarang terendam adalah merupakan awalmula peradabah: disebut sebagai teori "Keluar dari Sundalandia".
Stephen Oppenheimer menempatkan asal Austronesia di Sundalandia dan daerah-daerah diatasnya. Penelitian genetik yang dilaporkan pada tahun 2008 menunjukkan bahwa pulau-pulau yang merupakan sisa-sisa Sundalandia kemungkinan besar dihuni sedini 50.000 tahun yang lalu, bertentangan dengan hipotesis sebelumnya (Bellwood dan Dizon, 2005) bahwa daerah tersebut dihuni paling lambat 10.000 tahun yang lalu dari Taiwan.
Sebuah studi oleh Universitas Leeds yang dipublikasikan dalam Molecular Biology and Evolution pada tahun 2008, yang meneliti garis keturunan DNA mitokondria, menunjukkan bahwa manusia telah mendiami pulau-pulau di Asia Tenggara dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang diyakini sebelumnya. Penyebaran penduduk tampaknya telah terjadi pada saat yang sama dengan naiknya permukaan laut, yang telah mengakibatkan migrasi dari Kepulauan Filipina ke utara menuju Taiwan dalam 10.000 tahun terakhir. Migrasi penduduk yang paling mungkin adalah karena didorong oleh perubahan iklim – sebagai efek tenggelamnya sebuah benua kuno. Naiknya permukaan laut dalam tiga pulsa besar mungkin telah menyebabkan banjir dan perendaman di Sundalandia, menciptakan Laut Jawa dan Laut Tiongkok Selatan, dan ribuan pulau yang membentuk Indonesia dan Filipina kini. Berubahnya permukaan laut menyebabkan manusia tersebut untuk menjauh dari kediaman pantai dan budaya mereka, dan berpindah ke pedalaman di seluruh Asia Tenggara. Migrasi paksa ini menyebabkan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan hutan dan pegunungan baru, mengembangkan pertanian dan domestikasi, dan menjadi pendahulu manusia masa depan di wilayah ini.
Penelitian dan studi oleh HUGO Pan-Asian SNP Consortium pada tahun 2009, yang dilakukan dalam dan antara populasi yang berbeda di benua Asia, menunjukkan bahwa keturunan genetik sangat berhubungan dengan kelompok-kelompok etnis dan bahasa. Terdapat peningkatan yang jelas dalam keragaman genetik dari utara ke selatan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada satu aliran migrasi utama manusia ke Asia yang berasal dari Asia Tenggara, bukan beberapa aliran dalam dua arah selatan-utara seperti yang diusulkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara merupakan sumber geografi utama populasi Asia Timur dan Asia Utara. Populasi Asia Timur terutama berasal dari Asia Tenggara dengan kontribusi kecil dari kelompok Asia Tengah-Selatan. Penduduk pribumi Taiwan berasal dari Austronesia. Hal ini berlawanan dengan teori bahwa Taiwan merupakan "tanah air" leluhur bagi populasi di seluruh Indo-Pasifik yang berbicara bahasa Austronesia.
 


Pembudidayaan

Penelitian-penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa pembudidayaan beberapa tanaman pertanian dan hewan peliharaan pertama kali dilakukan di Sundalandia dan wilayah-wilayah sekitarnya yang erat kaitannya dengan penyebaran penduduk dari Sundalandia. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut terbatas pada penemuan-penemuan yang ada pada saat ini saja. Di Sundalandia, kedua pembudidayaan tersebut tidak terlepas dari lingkungan air, baik itu sungai maupun laut, yang keduanya bertemu di muara sungai. Dengan demikian dapat diduga bahwa pusat-pusat peradaban awal adalah dimulai dari lingkungan muara sungai, seperti telah dibahas diatas. Namun, muara-muara sungai besar di Sundalandia pada masa Zaman Es Akhir saat ini berada dibawah permukaan laut. Dapat diduga bahwa bukti-bukti pembudidayaan yang paling tua belum dapat ditemukan karena berada di dasar laut dan bukti-bukti yang ada saat ini adalah di daratan yang lebih tinggi sehingga usianya lebih muda. Selain itu, Sundalandia memiliki aktifitas gunung berapi yang tinggi sehingga daratan yang ada saat ini telah tertutup abu volkanik yang sangat tebal, yang menjadi hambatan yang cukup serius untuk menemukan bukti-bukti arkeologinya.

Kelapa

Analisis DNA terhadap lebih dari 1.300 buah kelapa dari seluruh dunia mengungkapkan bahwa kelapa (Cocos nucifera) pada awalnya dibudidayakan di dua lokasi terpisah, yaitu di sekitar Samudera Pasifik dan Hindia (Baudouin et al, 2008; Olsen et al, 2011). Selain itu, genetika kelapa juga tercatat dalam rute perdagangan pra-sejarah dan kolonisasi Amerika. Di sekitar Samudera Pasifik, kelapa pertama kali dibudidayakan di kepulauan Asia Tenggara, yaitu Filipina, Malaysia, Indonesia, dan mungkin juga di daratan Asia. Di sekitar Samudera Hindia, kemungkinan pusat budidayanya adalah pinggiran selatan India, termasuk Srilanka, Maladewa dan Lakadewa. Kelapa dari sekitar Samudera Pasifik diperkenalkan ke sekitar Samudera Hindia beberapa ribu tahun lalu oleh masyarakat penutur Austronesia kuno yang membangun jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Madagaskar dan pesisir Afrika timur.
Baca juga: Kelapa

Padi

Dalam buku Eden in the East (1998), Stephen Oppenheimer mengklaim bahwa budidaya padi bukan dimulai di Tiongkok tetapi di Semenanjung Malaya, 9.000 tahun lalu. Butiran beras telah ditemukan, yang berusiakan antara 7.000 sampai 5.000 SM, di Semenanjung Malaya. Periode ini adalah beberapa ribu tahun lebih tua dari kedatangan orang-orang Austronesia dari Taiwan yang diduga telah membawa teknologi pertanian ke Asia Tenggara.
Ada empat varietas utama padi: japonica, berbutir pendek yang tumbuh di Jepang, Korea dan Tiongkok timur; indica, berbutir panjang yang umum di India, Pakistan dan sebagian besar Asia Tenggara; aus, tumbuh terutama di Banglades; dan beras wangi, yang meliputi varietas yang lebih eksotis seperti basmati di India dan melati di Thailand. Para ilmuwan terutama memfokuskan pada indica dan japonica karena temuan arkeologi menunjukkan keduanya memiliki sejarah budidaya yang panjang. Para peneliti umumnya sepakat bahwa japonica telah dibudidayakan di Tiongkok selatan atau Asia Tenggara antara 8.200 dan 13.500 tahun lalu. Lokasi yang tepat masih diperdebatkan.
Para ahli masih memperdebatkan asal pembudidayaan indica. Peter Civáň dari University of Manchester, Inggris dan timnya pada 2015, dengan membandingkan DNA dari 1.083 varietas padi modern dengan 446 sampel padi yang diambil dari seluruh Asia Selatan, telah melacak kembali sejarah tanaman tersebut menjadi tiga jenis padi yang berbeda. Japonica, yang disukai di Jepang, ditelusuri kembali dari tengah Lembah Yangtze di Tiongkok Selatan. Tim tersebut telah melacak kembali kelompok indica ke lembah Sungai Brahmaputra yang mengalir dari Himalaya, sementara kelompok aus berasal dari wilayah yang sekarang India dan Banglades.
Namun demikian, penelitian tentang asal pembudidayaan padi masih terus berjalan. Dapat diduga bahwa bukti-bukti budidaya padi yang paling tua belum dapat ditemukan karena berada di dasar laut dan bukti-bukti yang ada saat ini adalah di daratan yang lebih tinggi sehingga usianya lebih muda. Bukti-bukti di daratan juga belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya karena daerah Sundalandia adalah pada umumnya tertutup oleh abu volkanik yang sangat tebal.n.

Pisang

Pisang (Musa spp) diyakini berasal lebih dari 10.000 tahun yang lalu dan beberapa ilmuwan percaya bahwa pisang adalah buah-buahan yang pertama kali dibudidayakan. Pisang yang ada saat ini jauh lebih baik daripada buah liar asli yang berisi banyak biji yang besar dan keras dan rasanya kurang enak. Dua varietas pisang liar, Musa acuminata dan Musa baalbisiana telah dipersilangkan sehingga menghasilkan pisang tanpa biji seperti yang ada saat ini.
Pisang diperkirakan pertama kali tumbuh di daerah yang mencakup Semenanjung Malaya, Indonesia, Filipina dan Papua. Dari sini, para pedagang dan penjelajah membawanya ke India, Afrika dan Polinesia. Sebuah kitab Buddha, dikenal sebagai Pali Canon, kira-kira pada 600 SM, mencatat pedagang India yang melakukan perjalanan melalui wilayah Melayu telah memakan buah tersebut dan membawa pulang tanaman itu. Pada 327 SM, ketika Alexander Agung dan pasukannya menyerbu India, ia mendapati tanaman pisang di lembah India. Setelah mencicipi buah yang tidak biasa ini untuk pertama kalinya, ia memperkenalkan penemuan baru ini kepada dunia Barat.
Pisang telah menyebar ke Tiongkok pada sekitar 200 M. Menurut sejarawan Tiongkok Yang Fu, pisang hanya pernah tumbuh di wilayah Tiongkok selatan. Pisang di Tiongkok tidak pernah benar-benar populer sampai abad ke-20 karena dianggap sebagai buah yang asing, aneh dan eksotis. Pisang mulai dikembangkan di Afrika sekitar 650 M.
Diperkirakan bahwa pedagang dari Arab, Persia, India dan Indonesia mendistribusikan pisang ke sekitar daerah pesisir Samudera Hindia antara abad ke-5 dan ke-15. Pelaut Portugis mendapatkan pisang di Afrika Barat dan perkebunan pisang didirikan pada abad ke-15 di lepas pantai negaranya, di Kepulauan Kanaria. Antara abad ke-16 dan ke-19, pisang diperdagangkan di Amerika dan perkebunan-perkebunan didirikan di Amerika Latin dan Karibia. Tanaman pisang pertama kali tiba di Australia pada tahun 1800-an.

Tebu

Tebu (Saccharum spp) kemungkinan pertama kali dibudidayakan oleh masyarakat Papua, sekitar 8.000 SM. Namun, teknik ekstraksi dan teknologi pemurniannya lalu dikembangkan oleh orang-orang yang tinggal di India. Setelah pembudidayaan tersebut, kemudian menyebar dengan cepat ke Asia Tenggara dan Tiongkok Selatan. Di India, dimana proses penyulingan sari tebu menjadi kristal butiran dikembangkan, sering dikunjungi oleh konvoi kekaisaran (seperti dari Tiongkok) untuk belajar tentang budidaya dan penyulingan tebu. Pada abad ke-5, budidaya tebu dan pengolahannya telah mencapai Persia; dan dari sana pengetahuan tersebut dibawa ke Mediterania oleh ekspansi Arab.
Eksplorasi dan penaklukan oleh Spanyol dan Portugis pada abad ke-15 membawa tebu ke baratdaya Iberia. Henry the Navigator memperkenalkan tebu ke Madeira pada 1425, sementara Spanyol, yang akhirnya dapat menaklukkan Kepulauan Kanaria, memperkenalkan tebu disana. Pada 1493, dalam perjalanan kedua, Christophorus Columbus membawa bibit tebu ke Amerika, khususnya Hispaniola.

Cabai

Penelitian yang ada menunjukkan bahwa cabai (Capsicum spp) dibudidayakan lebih dari 6.000 tahun lalu di Meksiko, di wilayah yang meluas dari Puebla Selatan dan Oaxaca Utara sampai ke Veracruz Tenggara, dan merupakan salah satu tanaman dengan penyerbukan sendiri yang dibudidayakan di Meksiko. Namun, cabai telah disebutkan dalam Siva Purana dan Wamana Purana, di India, yang berusiakan sekitar abad ke-6 sampai ke-8 M (Banerji, 1980). Nama Sansekerta-nya adalah marichi-phalam yang diterapkan untuk Capsicum annuum dan Capsicum frutescens (Nadkarni, 1914). Tanaman dan buahnya secara natural digambarkan dalam ukiran batu di sebuah candi Siwa di Tiruchirapalli, Tamil Nadu (Gupta, 1996). Sebuah ukiran tanaman cabai yang sangat eksplisit ditemukan pada panel dinding reruntuhan di kompleks Candi Prambanan, Jawa Tengah, yang berusiakan seribu tahun lebih.

Jagung

Penelitian yang ada menunjukkan bahwa jagung (Zea mays) dibudidayakan kurang lebih 10.000 tahun lalu oleh orang asli Meksiko. Namun, penyelidikan lapangan telah menemukan jenis jagung yang tidak biasa yang tumbuh di Asia (terutama di suku Sikkim di pedalaman Himalaya dan varietas “berlilin” di Myanmar, seluruh Tiongkok dan Semenanjung Korea), sebagian besar jauh dari daerah pesisir. Karakteristik dan distribusi jagung ini tidak dapat dijelaskan pada masa pasca-Columbus, karena varietas berlilin tidak dikenal di Amerika. Johannessen et al (1998a, 1989a) telah mendokumentasikan secara luas bahwa ukiran jagung – ratusan jumlahnya – terdapat pada dinding candi di Karnataka, India selatan. Seni ini biasanya berasal dari abad ke-11 sampai ke-13 M, tetapi beberapa buah adalah jauh lebih tua. Empat kata Sansekerta untuk jagung telah teridentifikasi, sedangkan Garuda Purana dan Linga Purana di India (abad ke-5 M) telah mencatat tentang jagung. Sebuah keramik yang ditemukan di Zhenghou, Tiongkok yang berusiakan sekitar 2.000 tahun menunjukkan bekas jagung yang tercetak sebelum dibakar. Sebuah ukiran tanaman jagung ditemukan pada panel dinding reruntuhan di kompleks Candi Prambanan, Jawa Tengah, di samping ukiran cabai, yang berusiakan seribu tahun lebih.

Ayam

Hasil analisis DNA purba yang dilakukan oleh Alice A Storey et al pada 2012 terhadap 48 tulang ayam yang berasal dari data arkeologi memberikan petunjuk tentang penyebaran ayam ternak oleh manusia pra-sejarah. Tanda genetis haplogrup E mtDNA menghasilkan petunjuk bahwa ayam terdapat di Eropa pada 1,000 tahun lalu dan di sekitar Pasifik pada 3.000 tahun lalu, yang menunjukkan beberapa dispersal pra-sejarah dari Asia. Kedua jalur penyebaran berkumpul di Amerika dimana ayam diperkenalkan oleh masyarakat Polinesia dan kemudian oleh orang Eropa.
Penelitian yang dilakukan oleh Martin Johnsson di Department of Physics, Chemistry and Biology Linköping University, Swedia pada 2015 menunjukkan bahwa ayam pertama kali dibudidayakan dari bentuk liarnya yang disebut ayam hutan merah (Gallus gallus), suatu spesies ayam yang masih terdapat secara liar di sebagian besar Asia Tenggara, kemungkinan dihibridisasi dengan ayam hutan abu-abu (Gallus sonneratii), yang dilakukan mungkin sekitar 8.000 tahun lalu. Penelitian tersebut menunjukkan kemungkinan adanya beberapa asal daerah yang berbeda di Asia Tenggara dan Selatan, termasuk Tiongkok Selatan dan Utara, Thailand, Myanmar dan India.

Anjing

Penelitian yang dilakukan oleh Mattias Oskarsson di School of Biotechnology, Royal Institute of Technology (KTH), Swedia pada 2012 menggunakan urutan DNA kromosom-Y menunjukkan bahwa anjing di Asia Tenggara di sebelah selatan Sungai Yangtze memiliki keragaman genetis yang tertinggi dan diturunkan dari sejumlah besar keturunan serigala. Ia menekankan bahwa penyebaran anjing pada masa awal adalah erat hubungannya dengan sejarah manusia dengan anjing sebagai bagian budaya mereka. Ia untuk pertama kalinya menyelidiki penyebaran anjing dari Asia Tenggara ke Polinesia dan Australia, dan hasilnya dapat digunakan sebagai bukti untuk menelusuri asal-usul masyarakat Polinesia yang telah sebelumnya terindikasikan dari studi arkeologi dan linguistis.
Peter Savolainen dari KTH-Royal Institute of Technology di Swedia dan Ya-Ping Zhang dari Kunming Institute of Zoology di Tiongkok pada 2015 secara bersamaan menunjukkan bahwa manusia pertama kali menjinakkan anjing di Asia Tenggara 33.000 tahun lalu, dan bahwa sekitar 15.000 tahun lalu subset nenek moyang anjing mulai bermigrasi kearah Timur Tengah dan Afrika. Penyebaran tersebut mungkin terinspirasi oleh sifatnya yang dapat bersahabat dengan manusia, tetapi mungkin juga bahwa mereka melakukan perjalanannya secara mandiri. Salah satu faktor pendorong yang mungkin adalah mencairnya gletser, yang mulai mundur sekitar 19.000 tahun lalu. Tidak sampai 5,000 tahun setelah mereka pertama kali mulai menyebar dari Asia Tenggara, anjing diduga telah mencapai Eropa. Sebelum akhirnya mencapai Amerika, salah satu kelompok di Asia telah berasimilasi dengan anjing yang telah bermigrasi kembali ke Tiongkok Utara.

Babi

Bukti arkeologi yang ada saat ini menunjukkan bahwa babi awalnya dibudidayakan setidaknya di dua tempat, di lembah Mekong dan di Anatolia, wilayah di Turki kini. Studi yang dilakukan pada 2007 terhadap materi genetis dari 323 babi modern dan 221 babi kuno di Eurasia Barat menunjukkan bahwa babi pertama kali datang ke Eropa dari Timur Dekat, tetapi Eropa kemudian menjinakkan babi hutan lokal, yang tampaknya menggantikan babi asli mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Laurent Frantz dari University of Oxford, Inggris dan Martien Groenen dari Wageningen University and Research Centre, Belanda beserta timnya menggunakan analisis komputer canggih terhadap 103 urutan genom keturunan babi hutan dan babi peliharaan dari seluruh Eropa dan Asia, yang diterbitkan dalam Nature Genetics pada 2015, menunjukkan bahwa babi memang berasal dua tempat berbeda tersebut. Tetapi babi Eropa moderen adalah campuran yang berasal dari beberapa populasi babi hutan. Beberapa materi genetis mereka tidak dapat ditemukan pada DNA babi hutan yang dikumpulkan oleh para peneliti tersebut, sehingga mereka berkesimpulan bahwa setidaknya nenek moyang mereka berasal dari salah satu kelompok yang telah punah atau dari kelompok lain di Asia Tenggara/Timur. Anomali ini menunjukkan bahwa babi telah dibawa dari satu tempat ke tempat lainnya, dimana mereka diasimilasikan dengan kelompok tersebut.

Gajah Kalimantan

Asal gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) adalah kontroversial. Dua hipotesis yang bersaing berpendapat bahwa mereka adalah asli dari masa Pleistosen, atau dibawa dari tempat lain. Secara taksonomi, mereka telah diklasifikasikan sebagai subspesies yang unik atau ditempatkan dibawah subspesies India atau Sumatera. Prithiviraj Fernando et al pada 2003 telah melakukan penelitian terhadap DNA mitokondria gajah Kalimantan dan gajah yang terdapat di seluruh Asia. Ia menemukan bahwa gajah Kalimantan secara genetis adalah berbeda, dengan indikasi molekul yang divergen pada kolonisasi masa Pleistosen sekitar 300.000 tahun lalu. Pada waktu kenaikan permukaan laut di Zaman Es terakhir yang memisahkan Pulau Kalimantan dari daratan Asia, gajah di pulau ini menjadi terisolasi dari sepupu mereka di daratan Asia dan Sumatera dan kemudian berkembang menjadi sub-spesies gajah Asia yang berbeda. Gajah Jawa (Elephas maximus sondaicus) yang sekarang telah punah adalah identik dengan gajah Kalimantan.

 

Teori Atlantis di Sundalandia

Beberapa penulis telah secara khusus menyatakan hubungan yang jelas antara Sundalandia dan Atlantis-nya Plato. Dataran bawah laut Sunda adalah cukup cocok dengan deskripsi Plato tentang Atlantis. Topografi, iklim, flora dan faunanya bersama-sama dengan aspek mitologi lokal, semuanya menjadi hal yang meyakinkan untuk mendukung ide ini.
CW Leadbeater (1854-1934), seorang teosopis ternama, adalah mungkin yang pertama menunjukkan adanya hubungan antara Atlantis dan Indonesia dalam bukunya, The Occult History of Java. Peneliti-peneliti lain telah menulis tentang prasejarah daerah tersebut, diantaranya yang paling dikenal adalah mungkin Stephen Oppenheimer yang dengan tegas menempatkan Taman Eden di wilayah ini, meskipun ia hanya menyebut sedikit referensi mengenai Atlantis. Robert Schoch, bekerjasama dengan Robert Aquinas McNally, menulis sebuah buku dimana mereka menunjukkan bahwa bangunan piramida mungkin memiliki asal-usul dari sebuah peradaban yang berkembang di bagian-bagian Sundalandia yang kini terendam.
Buku pertama yang secara khusus mengidentifikasi Sundalandia dengan Atlantis ditulis oleh Zia Abbas. Namun, sebelumnya telah ada setidaknya dua publikasi internet yang membahas secara rinci perihal Atlantis di Asia Tenggara. William Lauritzen dan almarhum Profesor Arysio Nunes dos Santos keduanya mengembangkan situs internet secara luas. Lauritzen juga telah menulis sebuah e-book yang tersedia dalam situsnya, sementara Santos mengembangkan pandangannya tentang Atlantis di Asia melalui bukunya, Atlantis: The lost continent finally found. Dr Sunil Prasannan membuat sebuah esai yang menarik didalam website Graham Hancock. Sebuah situs yang lebih esoteris juga menyampaikan dukungan mengenai teori Sundalandia.
Dukungan lebih lanjut tentang Atlantis di Indonesia terjadi pada April 2015 dengan penerbitan buku, Atlantis: The lost city is in Java Sea oleh seorang pakar hidrologi, Dhani Irwanto, yang berupaya untuk mengidentifikasi fitur kota yang hilang dalam rincian narasi Plato dengan suatu lokasi di Laut Jawa lepas pantai pulau Kalimantan.